Minggu, 10 Juni 2012

Pentas Duniaku


Ramai  tapi tak gaduh, suram tapi tak gelap. Semua mata melihatku, semua pupil elektronik menyorotku, semua telinga mendengarku, mendengarkanku berbicara. Panggung tak begitu luas, dengan properti kursi goyang dan sebuah tong besar, aku memainkan peran yang jauh dari kepribadianku. Lancar aku berakting karena sering berlatih. Teater durasi 45 menit usai dengan dialog terakhirku.
Aku mengayuh sepeda gayuh warna ungu pemberian kedua sahabatku saat ulang tahunku empat tahun lalu, kususuri jalan dengan lampu kota yang belum lama ini kusinggahi untuk menuntut ilmu. Aku mahasiswi semester 5 di universitas jember.
“baru pulang, Na?” sapa ibu kostku
“iya, Bu.” Jawabku singkat
“Sudah hampir tiga tahun kamu disini, kenapa masih canggung denganku?” tambah ibu kostku yang bernama Kristine.
“oh, itu.” Aku membuang nafas beratku “ibu kandungku saja tak keberatan, Bu” jawabku sambil tersenyum
“baiklah, kamu pergilah istirahat.” Katanya sambl menepuk pundahku lembut.
Tanpa menjawab aku pergi meninggalkannnya. Aku sempat berpikir, hanya Bu Kristine yang mau bertanya seperti itu kecuali Ayah, almarhum ibu, dan kakak laki-lakiku, sahabatku saja tak pernah berkata begitu selama lima tahun mereka mengenalku.
Matahari pagi ini cepat muncul, kuliah berjalan seperti biasanya. Aku punya banyak teman, hanya seperempat dari mereka yang berbaur denganku, salah satunya Dayat.
“Setelah ini kau kemana, Na?” tanyanya sambil berbisik
“tak tahu, ke alam barsya mungkin” tanyaku
“kau slalu menjawab dengan jawaban yang mirip.” Gumamnya “jawablah yang lain, biar aku tak bingung, Na” tanyanya ulang
“aku pergi kemana kakiku melangkah.” Jawabku padanya, dan member isyarat untuk diam
“yasudah, aku ikut kau”
Siang ini cerah, tak seperti biasa yang selalu hujan deras. Seperti biasa aku mengayuh sepedaku ketempat biasa aku menyendiri, tapi siang ini ada yang berbeda, aku membonceng Dayat. Aku senang punya teman seperti dia, tapi terkadang menyusahkan, dia lebih cerewet dari kedua temanku di kota asalku.
 “ Jika aku mati dikota ini kau berhak mengambil sepeda gayuhku, ambillah di kostanku” kataku sambil tersenyum merasakan angin sejuk di jalan kampus Universitas Jember.
“ah, aku tak mau. Aku takut arwahmu akan mengambilnya lagi jika kubawa pulang.” Sambil tertawa dia menjawab “Jika aku dulu yang mati kamu berhak mengambil pemutar musik milikku yang biasa kau pakai”tambahnya.
“baiklah, akan kupergunakan dengan baik”
“ah,kau ini. Jangan menunjukkan kalau kau benar-benar menginginkan aku mati”
“semua orang akan mati, Yat” kataku “turun, kita sampai”
Belakang gedung Soetardjo Universitas jember yang rindang, teduh, dan sejuk karena banyak pohon rindang. Disini aku sering singgah setelah kuliah selesai.
“kamu sendiri yang mengatakannya ‘kan?”
“Benar, tapi janganlah kamu mendahului takdir, Na” jawabnya sambil duduk sembari memberikanku sapu tangan.
“buat apa?” kataku dengan maksud menanyakan sapu tangan ini.
“bibirmu, berdarah” katanya. Aku spontan kaget dan mengusapnya
“jika aku boleh meminta pada tuhan, aku ingin Dia mencabut nyawaku saat aku berpura-pura menjadi orang lain, Yat” nada perkataanku ini membuatdia tertawa terbahak-bahak
“kalau aku, ingin saat aku sudah menjadi direktur perusahaan ayahku di Manado” katanya terbahak
“aku tidak bergurau, Yat”
Sejenak, pembicaraan kita berpindah ke pementasanku selanjutnya. Karena dia rajin menonton aksiku walaupun dia tak tahu makna ceritanya. Maklum saja, dia bukan seniman sepertiku, yang lihai berpura-pura, pandai memainkan karakter siapa saja, seperti orang munafik saja. Senyumku dalam hati.
Sebulan tlah berlalu sejak saat itu, sudah 3 pertunjukkan yang telah Dayat tonton dan mendukungku. Ya, dia memang temanku yang baik hatinya. Sudah sebulan pula aku tak lagi ke rumah sakit untuk berobat, karena tak ada lagi yang mengingatkanku selain almarhum ibuku. Ayahku? Tak mungkin, dia lebih mementingkan bisnis plastiknya. Kakakku? Pernah, tapi tak mungkin untuk saat ini. Nanti malam pertunjukkan yang lumayan besar, di gedung PKM. Mungkin, Dayat akan dating lagi.
Tempat persiapan sedikit gaduh, dari yang memakai kostum, make-up, latihan adegan. Aku hanya duduk melihat mereka yang hampir setiap hari bersamaku di kota ini. Aku merasa pusing dan kepalaku berputar-putar, dalam hatiku “mungkin karena aku sudah lama tak ke dokter”. Aku mengambil tisu di meja rias, aku berkeringat, tak biasanya aku merasa gugup seperti ini.
Pembawa acara sudah membuka acara, tapi tetap saja ramai penonton tapi tidak gaduh. Di balik pentas aku membaca pesan elektronik dari Dayat, “hei Naora aku sudah disini, tunjukkan aksimu yang terbaik, anggap ini penampilan terakhirmu sebelum kau mati”. Dalam hati aku tersenyum, dia memang teman baikku selain kedua sahabatku di kota asalku. Tapi tetap saja, persaan gugup blum kukalahkan. Padahal sudah kulakukan pertapaan sebelum gladi bersih tadi sore. Apa karena peranku ini bukan pura-pura? Apa karena peran ini memang karakterku yang tak banyak bicara.
Pementasanku berhasil, gugup berhasil kukalahkan setelah aku memasuki pentas. Setelahnya aku bertemu Dayat sambil duduk di pinggir jalan bersamanya, hari ini aku tak membawa sepeda gayuhku, tapi aku bersama Dayat menggunakan motornya yang keren. Malam kian larut, aku diantarnya pulang olehnya.
Pesan dari Dayat, “jaga pemutar musikku, jangan sampai rusak”
Pagi ini mendung, matahari malu menunjukkan kegagahannya. Langit sepertinya akan bersedih. Sama sepertiku, setelah mendengar kabar kalau Dayat akan dimakankan siang ini, aku lebih tak bersemangat seperti biasa. Dia meninggal akibat kecelakaan semalam.
“ternyata pesan itu pesan terakhirmu padaku? aku benci pada operator yang kugunakan, kenapa pesan elektronik itu terkirim untukku, aku benci perpisahan dengan sebuah pesan, aku benci kenapa dia yang menyampaikan rinduku pada ibuku, kenapa dia yang pergi dulu sebelum aku yang menderita kanker otak?” penuh rasa haru aku mengatakannya.
=== SEKIAN ===
“Tetap bersyukurlah pada apa yang kamu miliki, Hiduplah dan beribadahlah semata-mata hanya untuk yang kuasa, takdir hanya Tuhan yang menentukan, kita hanya bisa berencana.” (Zakiyah)
Jember, 25 September 2011
 
Copyright (c) 2010 me-medh and Powered by Blogger.